Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat inflasi tahunan September 2026 sebesar 2,67 persen, naik dibanding Agustus yang tercatat 2,59 persen. Kenaikan harga emas perhiasan memberi andil terbesar 0,64 persen, disusul pelumas atau oli mesin 0,2 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Waingapu 3,58 persen, terendah di Kabupaten Timor Tengah Selatan 1,04 persen.
KUPANG — Kenaikan harga pada 10 dari 11 kelompok pengeluaran mendorong inflasi tahunan NTT, dengan Indeks Harga Konsumen tercatat 110,35. Kepala BPS Provinsi NTT Matamira B Kale menyebut emas perhiasan sebagai komoditas penyumbang andil tertinggi, diikuti pelumas mesin, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, dan sejumlah komoditas ikan.
"Komoditas emas perhiasan memberikan andil tertinggi sebesar 0,64 persen. Sedangkan komoditas pelumas atau oli mesin memberikan andil inflasi terbesar kedua yaitu 0,2 persen. Komoditas lainnya yang mendorong inflasi tahunan adalah angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, dan beberapa komoditas ikan," kata Matamira di Kupang.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi mencapai 12,03 persen. Transportasi menyusul di posisi kedua dengan 4,03 persen, disusul pakaian dan alas kaki 2,80 persen serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 2,50 persen.
Kelompok kesehatan tercatat inflasi 2,01 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,45 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,84 persen. Sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 1,82 persen, perlengkapan rumah tangga 1,34 persen, dan rekreasi, olahraga, dan budaya 0,65 persen.
Hanya kelompok pendidikan yang mengalami penurunan indeks harga sebesar 3,25 persen pada September 2026.
Secara bulanan, NTT mengalami deflasi 0,35 persen pada September 2026, setelah Agustus juga deflasi 0,40 persen. Penurunan indeks harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,04 persen dengan andil minus 0,38 persen menjadi penyebab dominan.
"Deflasi bulanan September 2026 disebabkan oleh penurunan empat dari 11 kelompok pengeluaran. Penyebab dominan deflasi adalah turunnya indeks harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,04 persen dengan andil minus 0,38 persen," ujar Matamira.
Tomat memberi andil deflasi minus 0,15 persen, cabai rawit minus 0,13 persen, ikan tongkol minus 0,09 persen, sawi putih minus 0,06 persen, dan bawang merah minus 0,04 persen. Pasokan yang melimpah sejak Agustus karena masih periode panen disebut menjadi penyebab turunnya harga komoditas tersebut.
Sejumlah komoditas menahan laju deflasi, antara lain ikan kembung dengan andil 0,05 persen, daging ayam ras 0,03 persen, bunga pepaya 0,02 persen, semen 0,02 persen, dan pelumas atau oli mesin 0,02 persen.
Deflasi bulanan terjadi di tiga wilayah cakupan IHK, sementara dua wilayah lain mengalami inflasi. Deflasi terdalam tercatat di Waingapu sebesar 1,75 persen, sedangkan inflasi bulanan tertinggi terjadi di Kota Kupang sebesar 0,13 persen.
Secara tahun kalender atau year-to-date, inflasi NTT tercatat 1,29 persen. Kenaikan harga sejumlah komoditas ikan, daging ayam ras, bunga pepaya, semen, dan keramik menjadi pendorong inflasi bulanan di sejumlah wilayah, sementara penurunan harga cabai, bawang merah, tomat, beberapa komoditas sayuran, dan angkutan udara menahan laju inflasi.