NUSA TENGGARA TIMUR — Dokumenter bantahan berjudul "NAZA: The Real Story" resmi dirilis online dan diklaim telah ditonton lebih dari 20 juta orang. Film berdurasi 49 menit itu dibuat oleh Letnan Kolonel Roi Danino, Mayor Cadangan IDF Ariel Averbuch, dan editor konten Hagai Gutman sebagai respons atas dokumenter "NAZA" yang memenangi Special Jury Prize di Venice Film Festival.
Kemunculan "NAZA: The Real Story" berlangsung cepat, hanya berselang beberapa waktu setelah dokumenter aslinya menuai perhatian internasional. Menurut situs resmi film tersebut, versi bantahan ini mengangkat narasi perang Gaza lewat kesaksian para perwira IDF yang terlibat langsung di lapangan.
Dokumenter ini disebarkan lewat jaringan influencer digital dan komunitas internasional untuk menjangkau pembuat kebijakan serta jurnalis di seluruh dunia. Akun X Kedutaan Besar Israel untuk Amerika Serikat turut mengunggah ulang film ini dengan keterangan bahwa ada dokumenter Israel baru yang meluruskan fakta.
Situs "NAZA: The Real Story" menyebut film ini mengupas pertempuran di kawasan sipil, tantangan mengidentifikasi ancaman, serta keputusan yang diambil di medan perang. Kesaksian para perwira IDF disebut memberikan gambaran lebih dekat soal kondisi dan dilema yang mereka hadapi.
Film ini berargumen bahwa Hamas bertempur dari dalam kawasan sipil, dengan pejuang berpakaian sipil, senjata di rumah, sekolah, masjid, dan sebuah rumah sakit, serta poros terowongan di dalam bangunan. IDF disebut menjalankan operasi dengan aturan ketat soal pembukaan tembakan karena kondisi tersebut.
Dokumenter asli "NAZA" berdurasi 80 menit dan diambil pada malam hari di atap gedung Tel Aviv. Film ini mengangkat soal pembunuhan warga sipil Palestina di Gaza dan menampilkan wawancara dengan 24 perwira intelijen serta tentara Israel.
Istilah "NAZA" sendiri merupakan akronim dari collateral damage atau kerusakan ikutan yang dipakai intelijen Israel. Istilah itu merujuk pada perkiraan jumlah warga sipil yang akan tewas dalam sebuah serangan udara.
"NAZA" disutradarai Yuval Abraham dan Rachel Szor, dua dari empat co-director dokumenter pemenang Oscar 2025 "No Other Land". Film ini mendapat tepuk tangan selama 24,5 menit di Venice dan diterima baik saat tayang di New York Film Festival.
Saat ini "NAZA" masih diputar di bioskop Eropa dan Amerika Serikat. Film tersebut dijadwalkan bisa ditonton gratis lewat streaming di situs The Guardian pada akhir November.
Minggu lalu, IDF mengecam "NAZA" lewat sebuah pernyataan. IDF menyebut film itu manipulatif, menyesatkan, dan berbasis kesalahan faktual yang substansial.
Surat kabar sayap kanan Jerusalem Post menulis bahwa dengan distribusi "NAZA" yang masif di Eropa dan Amerika Serikat, para pembuat film bantahan memanfaatkan influencer digital dan jaringan akar rumput internasional. Tujuannya mendorong materi mereka langsung ke pembuat kebijakan dan jurnalis global.
"For the production team, the ongoing clash is no longer just a debate over military strategy but a definitive, high-stakes war over who dictates the historical record to the international community," tulis Jerusalem Post.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada komentar dari Yuval Abraham, Rachel Szor, maupun The Guardian soal "NAZA: The Real Story". The Guardian memproduksi "NAZA" bersama James Wilson dari JW Films dan produser eksekutif Jonathan Glazer.