NUSA TENGGARA TIMUR — Riset WRI Indonesia memperkirakan adopsi truk listrik atau Heavy-Duty Electric Vehicle (HDEV) mampu menghemat subsidi solar hingga Rp161,36 triliun pada periode 2030-2035. Angka itu setara dengan pengurangan volume diesel B0 sebanyak 31,34 juta kiloliter. Penghematan muncul karena penurunan konsumsi solar tidak cukup signifikan meski biodiesel sudah dinaikkan ke B50.
Kajian bertajuk "Mencapai Swasembada Energi Melalui Dekarbonisasi Angkutan Barang di Indonesia" yang dirilis WRI Indonesia menyoroti perlunya intervensi struktural pada sektor angkutan barang. Selama ini, peningkatan komposisi biodiesel dianggap belum mampu menekan konsumsi solar secara berarti.
Dalam riset tersebut, WRI menilai truk listrik menjadi salah satu jalur paling efektif untuk memutus ketergantungan diesel pada kendaraan berat. Sektor angkutan barang memang menjadi konsumen solar terbesar, sehingga perubahan di segmen ini berdampak langsung pada besaran subsidi yang ditanggung pemerintah.
Pemerintah terus mendorong pencampuran biodiesel ke dalam solar, dari B35, B40, hingga rencana B50. Namun, hasil riset menunjukkan penurunan konsumsi solar tidak signifikan meski produk akhir sudah memakai campuran 50 persen biodiesel dan 50 persen diesel B0.
Artinya, kebutuhan solar murni tetap tinggi, terutama di segmen logistik dan angkutan berat. Tanpa perubahan teknologi pada kendaraannya, beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi terus membengkak seiring pertumbuhan ekonomi dan arus barang.
WRI Indonesia menghitung penghematan nilai subsidi diesel B0 bisa mencapai Rp161,36 triliun dalam rentang 2030-2035. Angka itu setara dengan 31,34 juta kiloliter solar yang tidak lagi disubsidi.
Proyeksi tersebut bertumpu pada asumsi adopsi kendaraan berat listrik berjalan sesuai jalur dekarbonisasi angkutan barang. Semakin cepat truk listrik masuk ke armada logistik nasional, semakin besar potensi penghematan fiskal yang bisa diraih.
Dekarbonisasi angkutan barang ditempatkan sebagai bagian dari upaya mencapai swasembada energi. Mengalihkan truk diesel ke tenaga listrik mengurangi impor bahan bakar sekaligus menekan emisi sektor transportasi.
Meski begitu, riset ini tidak merinci skema insentif, infrastruktur pengisian daya, maupun harga truk listrik di pasar Indonesia. Beberapa merek kendaraan niaga listrik memang sudah mulai masuk, namun skala adopsinya masih kecil dibanding total populasi truk nasional.
Pemerintah menghadapi pilihan antara terus menambah porsi biodiesel atau mendorong elektrifikasi kendaraan berat. Keduanya butuh biaya, tetapi hanya jalur elektrifikasi yang dinilai mampu mengubah tren konsumsi solar secara struktural hingga 2035.