NUSA TENGGARA TIMUR — VinFast menerapkan konsep 'Drive Worry Free' di pasar Indonesia dengan lima pilar layanan yang mengadopsi standar global namun disesuaikan dengan kebiasaan konsumen lokal. Jenama asal Vietnam ini menawarkan pengisian daya gratis di jaringan V-GREEN hingga Maret 2029 dan skema sewa baterai untuk menekan biaya kepemilikan kendaraan listrik.
Head of Training Department VinFast Indonesia Rinaldi Ramdani menjelaskan bahwa pendekatan perusahaan tidak sekadar menyalin formula yang berhasil di pasar lain. Melalui fitur TCO Calculator di situs VinFast Auto ID, calon konsumen bisa menghitung sendiri perkiraan pengeluaran selama memiliki kendaraan listrik, mulai dari jarak tempuh hingga harga energi yang berlaku di Indonesia.
"Total Cost of Ownership, bisa melihat kira-kira selama empat sampai lima tahun, sebenarnya berapa uang yang harus saya keluarkan pada saat memiliki kendaraan listrik," ujar Rinaldi dalam keterangan tertulis, Kamis (24/9/2026).
Konsep Drive Worry Free berdiri di atas lima pilar: Zero Operating Cost, Battery Peace of Mind, Ownership Confidence, Service Confidence, dan Business Confidence. Standar yang dipakai sama di semua pasar VinFast, tetapi cara eksekusinya disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara.
Pilar Zero Operating Cost diwujudkan lewat program pengisian daya gratis di jaringan V-GREEN. Program ini diperpanjang hingga Maret 2029 untuk semua pemilik kendaraan listrik VinFast, termasuk pelanggan lama, pembeli baru, dan pengemudi taksi listrik Green SM.
Jaringan pengisian daya V-GREEN kini tersebar di lebih dari 4.300 titik di seluruh Indonesia. Dengan cakupan tersebut, biaya energi kendaraan bisa ditekan mendekati nol selama periode program berlaku.
Kekhawatiran soal nilai jual kembali dan biaya penggantian baterai dijawab VinFast melalui skema Lifetime Battery Warranty. Konsumen tidak perlu membeli baterai secara terpisah, melainkan menyewanya.
"Dengan sistem baterai sewa, itu mempermudah akses orang ke kendaraan listrik," kata Rinaldi.
CEO VinFast Indonesia Arunodoy Das menyatakan bahwa memilih kendaraan hari ini bukan sekadar memilih alat transportasi. Menurutnya, konsumen Indonesia perlu merasakan langsung ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi, mulai dari lini produk, infrastruktur pengisian daya, layanan purnajual, hingga solusi mobilitas.
"Kami ingin masyarakat Indonesia merasakan secara langsung bagaimana VinFast menghadirkan sebuah ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi, mulai dari lini produk, infrastruktur pengisian daya, layanan purnajual, hingga solusi mobilitas," ujarnya.
Dalam waktu kurang dari tiga tahun sejak masuk Indonesia, VinFast sudah membangun fasilitas perakitan lokal, memperluas jaringan V-GREEN, menghadirkan dealer dan layanan purnajual di berbagai wilayah, serta menyediakan layanan Green Rental dan program kepemilikan yang dirancang menjawab kekhawatiran konsumen.
Saat ini lebih dari 40 showroom dealer VinFast beroperasi di Indonesia. Perusahaan berencana menambah lebih dari 150 showroom baru dalam beberapa tahun ke depan sebagai bagian dari upaya mendekatkan layanan ke konsumen.
VinFast menghadirkan beragam jenis kendaraan listrik di Indonesia. Lini produknya mencakup VF 3 yang mungil, VF 6 yang lincah, VF 7 yang gagah, VF MPV 7 untuk keluarga, serta kendaraan komersial melalui lini Green.
Antusiasme calon pembeli terlihat dari sesi test drive di sejumlah kota. Peserta menjajal langsung performa, teknologi, kenyamanan berkendara, dan fitur keselamatan yang ditawarkan.
VinFast juga masuk ke segmen roda dua dengan tiga motor listrik: Evo, Feliz II, dan Viper. Ketiganya dibekali motor BLDC in-wheel 5.200 watt serta baterai LFP dengan teknologi battery swapping.
Bagian lain dari ekosistem VinFast adalah layanan Green Rental dengan inisiatif 'Sewa Jadi Cuan'. Program ini memungkinkan pemilik mobil VinFast menyewakan kendaraannya lewat platform resmi saat tidak dipakai, sehingga menghasilkan pendapatan tambahan.
Kehadiran VinFast sejalan dengan momentum peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik di Indonesia. Platform teknologi yang matang di pasar global tetap perlu disesuaikan sebelum layak disebut solusi untuk konsumen Tanah Air.