Dua Bulan Pascagempa Flores, 186 Murid SD di Manggarai Timur Masih Belajar Beralas Terpal

Penulis: Fauzan Arifin  •  Jumat, 09 Oktober 2026 | 11:17:31 WIB
Siswa SD Inpres Maki mengikuti pelajaran di tenda darurat pascagempa Flores di Manggarai Timur.

MANGGARAI TIMUR — Pemerintah menyatakan penanganan pascagempa Flores telah memasuki fase pemulihan dan rekonstruksi. Namun di wilayah paling terdampak, kehidupan sehari-hari warga masih berlangsung dalam kondisi darurat.

Kunjungan jurnalis BBC News Indonesia ke sejumlah titik di Kabupaten Manggarai Timur dan Nagekeo pada pertengahan September menemukan kegiatan sekolah yang masih berlangsung di tenda, pelayanan kesehatan dari tenda darurat, dan ratusan keluarga yang bertahan di pengungsian sambil menunggu hunian sementara.

Di sejumlah tempat, pemulihan berjalan lebih lambat akibat keterbatasan akses, persoalan distribusi, dan proses verifikasi kerusakan yang belum tuntas.

186 Siswa SDI Maki Belajar Tanpa Meja dan Kursi

Proses belajar mengajar di SD Inpres Maki memang telah dimulai kembali sejak pertengahan September. Dua tenda bantuan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana menjadi tempat belajar sementara bagi 186 siswa dari sembilan rombongan belajar.

Di bawah terpal yang dibentangkan sebagai alas lantai, puluhan siswa duduk mengikuti pelajaran tanpa meja dan kursi. Papan tulis yang biasa digunakan guru ikut rusak akibat gempa.

Guru kelas dua SDI Maki, Sinta Narti, menyebut keterbatasan fasilitas membuat proses belajar mengajar tidak berjalan seperti biasanya.

"Kesulitannya itu (tidak pakai) meja. Bagaimana anak mau menulis atau menggambar? Setengah mati," katanya.

Ketika matahari mulai meninggi, suhu di dalam tenda menjadi tantangan berikutnya. "Cuaca panas sehingga proses belajar mengajar tidak efektif, karena anak-anak gerah. Kita juga tidak betah di dalam tenda," tambah Sinta.

Kepala SDI Maki, Andi Suryani, mengakui dua tenda yang tersedia belum mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan sekolah. Siswa kelas satu hingga kelas tiga ditempatkan di satu tenda, sedangkan siswa kelas empat hingga kelas enam menggunakan tenda lainnya.

"Tenda yang ada ini belum cukup untuk kami di SD Inpres Maki, karena siswa ada 186," ujarnya.

Kekhawatiran terbesar Andi saat ini bukan lagi soal membuka kembali sekolah, melainkan bagaimana proses belajar bisa terus berlangsung ketika musim hujan tiba.

"Yang menjadi kekhawatiran di sini bagaimana kalau musim hujan, karena di daerah ini musim hujan disertai angin kencang," katanya.

Alat Kesehatan Tertimbun Reruntuhan, Imunisasi Terhambat

Pemerintah menyatakan layanan kesehatan tetap berjalan di wilayah terdampak. Pada 26 Agustus, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengklaim tidak ada lagi sarana kesehatan di NTT yang tidak atau belum berfungsi, termasuk rumah sakit dan puskesmas yang disebut dapat memberikan pelayanan hingga tindakan operasi.

Kondisi di lapangan berbeda. Di Puskesmas Pota, Manggarai Timur, seluruh pelayanan kesehatan dipindahkan ke tenda setelah bangunan puskesmas dinyatakan tidak lagi layak digunakan.

Kepala Puskesmas Pota, dokter Hindrayanti, mengatakan hampir seluruh alat kesehatan masih tertimbun reruntuhan gedung yang roboh sehingga pelayanan harus dilakukan dengan peralatan yang sangat terbatas.

Keterbatasan itu berdampak langsung pada layanan rutin, termasuk imunisasi bayi dan balita yang sempat terhenti sebelum akhirnya dilakukan secara darurat.

94.452 Murid dan 8.755 Guru Terdampak

Kemendikdasmen memperkirakan 94.452 murid serta 8.755 guru terdampak gempa Flores. Kementerian menyatakan akan memastikan hak belajar murid tetap terpenuhi dalam situasi bencana.

Guru Besar Ilmu Manajemen Kebencanaan Geologi UPN Veteran Yogyakarta, Prof Dr Eko Teguh Paripurno, menilai kehidupan darurat yang masih berlangsung di sejumlah wilayah memperlihatkan celah dalam penanganan bencana, terutama pada kemampuan negara menjangkau komunitas terpencil.

Menurut Eko, kerusakan infrastruktur, akses pendidikan dan kesehatan yang terbatas, serta kapasitas pemerintah daerah yang tidak mumpuni membuat distribusi bantuan dan pemulihan tidak berjalan merata. Kerentanan yang sudah ada sebelum gempa pun semakin parah.

Hingga pertengahan September, ratusan keluarga di Manggarai Timur dan Nagekeo masih menunggu kepastian bantuan untuk membangun kembali rumah mereka. Proses verifikasi kerusakan yang belum selesai menjadi salah satu penyebab utama tertundanya pencairan bantuan hunian.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: bbc.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top