NUSA TENGGARA TIMUR — Tiga vaksin direkomendasikan untuk ibu hamil demi melindungi bayi dari penyakit pernapasan serius. Rekomendasi ini datang dari empat organisasi dokter terkemuka di Amerika Serikat yang meninjau bukti ilmiah terbaru. Simak penjelasan lengkapnya agar ibu bisa berdiskusi dengan dokter kandungan.
Memasuki musim penyebaran virus pernapasan, perlindungan ekstra bagi ibu hamil menjadi perhatian utama. Vaksinasi tidak hanya memperkuat kekebalan tubuh ibu, tetapi juga memungkinkan transfer antibodi alami kepada janin melalui plasenta.
American Academy of Family Physicians (AAFP), American Academy of Pediatrics (AAP), American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), dan Infectious Diseases Society of America (IDSA) baru-baru ini mengeluarkan rekomendasi bersama. Panduan ini disusun melalui peninjauan terstruktur berbasis bukti untuk menilai keamanan dan efektivitas vaksin pada respiratory virus season 2026-2027.
Respiratory virus season adalah periode dalam setahun ketika berbagai virus yang menyerang sistem pernapasan menyebar lebih luas. Lonjakan kasus infeksi pada periode ini membuat ibu hamil dan bayi baru lahir masuk kelompok yang perlu perhatian khusus.
Mengapa Ibu Hamil Perlu Vaksinasi?
Presiden terpilih AMA, Sandra A. Fryhofer, MD, menegaskan pentingnya panduan yang jelas bagi tenaga medis dan pasien.
"Kolaborasi ini menandakan komitmen bersama kita di bidang kedokteran klinis, sains, dan kesehatan masyarakat. Ini memastikan rekomendasi vaksin didasarkan pada bukti yang kuat dan dikembangkan melalui proses yang transparan," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pasien berhak mendapatkan rekomendasi vaksin yang kredibel. "Pasien membutuhkan dan berhak mendapatkan rekomendasi vaksin yang jelas, kredibel, dan berdasarkan bukti ilmiah terbaik yang tersedia, sehingga mereka dapat membuat keputusan vaksin yang tepat untuk diri mereka dan keluarga," sambungnya.
1. Vaksin Influenza
Bukti terbaru menunjukkan vaksin flu dapat menurunkan risiko penyakit berat pada bayi. Penelitian selama 10 musim menemukan bahwa vaksinasi saat hamil menurunkan risiko penyakit simtomatik pada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan sebesar 44 persen.
Manfaat lain terlihat pada anak yang lebih besar. Selama 8 musim pengamatan, vaksinasi flu dikaitkan dengan penurunan angka kematian sebesar 80 persen di antara anak usia 6 bulan hingga 17 tahun.
Pada anak dengan kondisi kesehatan mendasar yang meningkatkan risiko penyakit parah, vaksinasi juga dikaitkan dengan penurunan angka kematian sebesar 77 persen.
2. Vaksin COVID-19
Tinjauan bukti menemukan bahwa kelompok berisiko tinggi, termasuk bayi, ibu hamil, dan lansia, memperoleh manfaat perlindungan dari vaksinasi COVID-19. Vaksinasi selama kehamilan menurunkan risiko kunjungan ke unit gawat darurat atau perawatan darurat sebesar 58 persen.
Perlindungan juga berlanjut setelah bayi lahir. Vaksinasi COVID-19 menurunkan risiko kunjungan ke rumah sakit di antara bayi yang lahir dari ibu hamil yang divaksinasi sebesar 36 persen pada tahun pertama kehidupan.
Untuk anak usia 9 bulan hingga 4 tahun, vaksinasi menurunkan kunjungan ke unit gawat darurat sebesar 76 persen.
3. Vaksin RSV
Respiratory syncytial virus (RSV) bisa menyebabkan penyakit pernapasan berat pada bayi. Perawatan pencegahan yang tepat sangat membantu mengurangi keparahan penyakit dan rawat inap.
Temuan studi menunjukkan vaksin RSV selama kehamilan menurunkan risiko RSV di antara mereka yang divaksinasi sebesar 82 persen. Vaksin ini juga menurunkan risiko rawat inap terkait RSV pada bayi yang lahir kemudian.
Imunisasi bayi dengan antibodi monoklonal nirsevimab menjadi pilihan lain yang terbukti menurunkan risiko rawat inap akibat RSV.
Dasar Rekomendasi Ini
Para peneliti dari University of Minnesota's Center for Infectious Disease Research and Policy (CIDRAP) menelusuri PubMed, Embase, Scopus, dan Cochrane CENTRAL. Mereka mencari bukti terkait produk yang telah mendapat izin atau persetujuan untuk digunakan sebagai vaksin.
Data yang disertakan mencakup uji coba terkontrol secara acak serta studi observasional. Populasi yang diteliti beragam, dari bayi, anak-anak, ibu hamil, tenaga medis, hingga orang dengan kondisi imunodefisiensi.
"Imunisasi terus menjadi salah satu alat terbaik kita untuk mencegah penyakit parah akibat virus pernapasan. Bukti terbaru tetap konsisten dengan penelitian yang menunjukkan bahwa imunisasi dapat mengurangi risiko rawat inap dan kematian di antara orang-orang yang paling mungkin mengalami penyakit serius," ujar Direktur Eksekutif Proyek Integritas Vaksin, Michael T. Osterholm, PhD, MPH.
Yang Perlu Ibu Perhatikan
Setiap keputusan vaksinasi sebaiknya dibicarakan dengan dokter kandungan atau bidan yang menangani kehamilan. Dokter akan mempertimbangkan kondisi kesehatan ibu, riwayat alergi, dan usia kehamilan sebelum memberikan rekomendasi.
Ibu hamil dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah atau memiliki kondisi penyerta tertentu perlu konsultasi lebih awal. Diskusikan jadwal vaksinasi yang tepat agar perlindungan optimal bagi ibu dan bayi.
Vaksinasi kehamilan memberi perlindungan ganda: memperkuat kekebalan ibu sekaligus membekali bayi dengan antibodi sejak lahir. Dengan memahami tiga jenis vaksin yang direkomendasikan, ibu bisa lebih siap berdiskusi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan langkah terbaik.