NUSA TENGGARA TIMUR — Kementerian Perhubungan memblokir akses pembelian tiket kapal penyeberangan via aplikasi Ferizy bagi truk kelebihan muatan dan dimensi (ODOL). Sistem pemblokiran dipasang sebelum kendaraan mencapai gerbang timbang pelabuhan, bukan saat antre masuk kapal. Kebijakan ini menargetkan pemotongan rantai pelanggaran muatan sejak dari hulu.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Aan Suhanan menyatakan larangan itu akan diterapkan di sejumlah titik penyeberangan. Ferizy sendiri merupakan layanan tiket daring yang dioperasikan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).
"Kendaraan yang ODOL nantinya tidak bisa beli tiket Ferizy," ujar Aan dalam Lokakarya Forum Wartawan Perhubungan di Bandung, Jawa Barat, Jumat (2/10).
Pemblokiran Dipasang Sebelum Gerbang Timbang
Poin krusial kebijakan ini ada di titik intervensinya. Kemenhub memilih memblokir sejak transaksi tiket, bukan menunggu truk tiba di jembatan timbang pelabuhan. Artinya, truk bermuatan berlebih tidak akan pernah mendapat akses masuk area dermaga sejak awal.
Aan berharap aturan ini bisa segera terealisasi di lapangan. Ia tidak menyebut tenggat waktu spesifik penerapannya.
Dua Lapis Penimbangan Diusulkan
Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kemenhub Risal Wasal mengusulkan dua tahap penimbangan bagi kendaraan logistik. Timbangan pertama berfungsi mengatur tata letak kendaraan di atas kapal, sementara timbangan kedua menjadi benteng pencegahan truk ODOL masuk pelabuhan.
Menurut Risal, satu kali penimbangan tepat sebelum kendaraan naik kapal sudah terlambat untuk mencegah pelanggaran. Truk yang telanjur masuk area pelabuhan sulit ditolak di menit akhir.
"Penimbangan yang kita cegah di awal untuk mencegah jangan sampai kendaraan ODOL masih bisa masuk ke dalam pelabuhan. Masuk pelabuhan pun enggak boleh. Kalau sudah masuk pelabuhan terus ditimbang masuk ke kapal, sudah telat," ujar Risal.
Apa Artinya bagi Pelaku Logistik dan ASDP
Bagi perusahaan ekspedisi, aturan ini memukul langsung kebiasaan mengangkut muatan melebihi kapasitas demi menekan biaya per trip. Truk yang selama ini lolos karena lemahnya pengawasan di gerbang pelabuhan kini berhadapan dengan tembok digital: tanpa tiket Ferizy, tidak ada slot kapal.
PT ASDP Indonesia Ferry sebagai operator Ferizy berada di posisi kunci. Sistem pembelian tiket mereka harus terintegrasi dengan data dimensi dan berat kendaraan, atau setidaknya dengan basis data kendaraan ODOL yang dimiliki Kemenhub. Tanpa integrasi data yang rapi, pemblokiran berisiko salah sasaran.
Dari sisi pengguna jasa, penyeberangan Merak–Bakauheni dan Ketapang–Gilimanuk menjadi jalur paling terdampak karena volume truk logistiknya tertinggi di Indonesia. Kemenhub belum mengumumkan jalur mana yang menjadi pilot project pemblokiran ini.
PR Lama yang Kini Dicoba Diselesaikan Lewat Digital
Masalah ODOL bukan perkara baru. Program zero ODOL sudah dicanangkan Kemenhub sejak beberapa tahun lalu, tetapi implementasinya kerap tersendat karena pengawasan manual di lapangan tidak konsisten. Truk yang ditolak di satu pelabuhan bisa lolos di pelabuhan lain.
Pendekatan lewat Ferizy menawarkan solusi yang lebih sulit diakali: penolakan terjadi di sistem, bukan di tangan petugas yang bisa "dilobi". Namun efektivitasnya bergantung pada seberapa ketat data kendaraan diperbarui dan seberapa besar celah pembelian tiket offline yang masih tersedia di loket pelabuhan.
Kemenhub belum merinci sanksi bagi operator yang tetap melayani truk ODOL, maupun mekanisme banding bagi pemilik kendaraan yang merasa datanya salah. Dua hal itu akan menentukan apakah kebijakan ini benar-benar mengubah perilaku di lapangan atau hanya memindahkan antrean pelanggaran ke jalur lain.