KUPANG — Gempa yang berpusat di wilayah Sumba Barat Daya membuat warga berhamburan keluar rumah pagi itu. Kepala Desa Weepangalli, Fransiskus Umbu Gete, menyebut 10 rumah warganya rusak berat dan tersebar di Dusun II serta Dusun IV.
Kerusakan juga tercatat di Desa Pero Konda, Kecamatan Kodi. Satu bangunan sekolah dasar Islam dan dua rumah warga dilaporkan terdampak guncangan di titik itu.
Intensitas Guncangan Capai VI MMI di Pero Konda
Direktur Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengatakan laporan kerusakan diterima hingga pukul 08.40 WIB. Menurut dia, intensitas guncangan di Pero Konda tercatat IV hingga VI MMI.
"Kerusakan terjadi di Pero Konda. Ada satu SD Islam dan dua rumah warga yang terdampak, dengan intensitas guncangan IV hingga VI MMI," kata Ayu dalam konferensi pers daring, Minggu (4/10).
Skala VI MMI berarti getaran dirasakan semua orang, banyak yang ketakutan, dan menimbulkan kerusakan ringan pada bangunan berkualitas buruk. Laporan satu orang luka ringan turut diterima BMKG dari wilayah terdampak.
Warga Panik, Trauma Gempa Flores Masih Membekas
Guncangan yang datang sekitar pukul 06.30 WITA membangunkan warga yang masih beristirahat. Fransiskus menyebut kepanikan dipicu pengalaman gempa Flores yang belum lama terjadi.
"Warga semua lari menyelamatkan diri karena masih trauma dengan kejadian gempa di Flores," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, BPBD belum mengeluarkan pernyataan resmi soal jumlah kerusakan di Sumba Barat Daya. Data sementara masih bersumber dari laporan pemerintah desa dan pemantauan BMKG.
BMKG Belum Tetapkan Status, Survei Lapangan Berjalan
Stasiun Geofisika Sumba Timur masih memantau aktivitas gempa susulan. BMKG berencana melakukan survei untuk memetakan dampak secara menyeluruh di titik-titik yang dilaporkan rusak.
"BMKG terus memantau dan akan melakukan survei untuk mengetahui dampak gempa secara lebih menyeluruh," kata Teguh Rahayu.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, meminta warga tidak menempati bangunan yang retak atau rusak. Imbauan serupa berlaku untuk bangunan yang belum diperiksa petugas.
"Untuk sementara, hindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa," kata Ardhasena.
Dia juga mengingatkan warga agar tidak terpengaruh informasi yang belum jelas sumbernya. "Tetap tenang dan jangan terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," tambahnya.
Warga Sumba Barat Daya yang rumahnya rusak berat masih bertahan di luar bangunan. Pemerintah desa menunggu hasil pendataan BPBD sebelum menentukan langkah penanganan berikutnya.