ATAMBUA — Garuda Sakti Cross Border Fest 2026 yang berlangsung di Atambua, Kabupaten Belu, pada 4-8 Agustus 2026, mencatatkan 2.977 transaksi pembelian menggunakan QRIS. Perhelatan yang digelar di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste ini sekaligus melibatkan 120 pelaku UMKM lokal dalam satu ekosistem transaksi digital.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Alfin Ari Wijayanto, mengatakan capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi pengembangan ekonomi digital di daerah perbatasan.
"Penggunaan QRIS dalam rangkaian Garuda Sakti Cross Border Fest menjadi bagian dari upaya memperluas ekosistem ekonomi dan keuangan digital di daerah perbatasan," katanya di Kupang, Minggu.
Kegiatan yang diperkirakan dihadiri lebih dari 5.000 pengunjung ini disebutnya menjadi momentum bagi pelaku usaha kecil untuk beradaptasi dengan sistem pembayaran non-tunai. Alfin menilai digitalisasi transaksi membuat proses jual beli lebih efisien dan inklusif, terutama bagi pedagang yang selama ini mengandalkan uang tunai.
Ia menambahkan, keterlibatan 120 UMKM dalam festival ini bukan sekadar ajang pameran produk, tetapi juga sarana memperkuat kesiapan mereka menghadapi perkembangan ekonomi dan keuangan digital yang semakin cepat.
Pada acara penutupan, edukasi mengenai Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah serta program Peduli, Kenali, dan Adukan (PeKA) dalam transaksi keuangan digital dikemas melalui kuis berhadiah. Langkah ini diambil untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Atambua tentang penggunaan rupiah yang sah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Selain itu, BI NTT menyediakan Pojok Literasi CBP Rupiah sebagai ruang edukasi bagi warga. Fasilitas ini dirancang untuk memperkuat literasi masyarakat mengenai ciri-ciri keaslian rupiah serta mendorong penggunaan mata uang nasional dalam setiap transaksi di kawasan perbatasan.
Garuda Sakti Cross Border Fest 2026 merupakan hasil kolaborasi Bank Indonesia, Kementerian Pariwisata, Pemerintah Kabupaten Belu, serta perbankan dan berbagai pihak lainnya. Alfin menegaskan bahwa sinergi ini bertujuan memperkuat kedaulatan rupiah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah perbatasan.
Ia berharap gelaran serupa dapat terus digencarkan. Menurutnya, penguatan literasi dan digitalisasi transaksi di wilayah perbatasan menjadi kunci menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya mobilitas masyarakat lintas negara.