KUPANG — Ratusan warga tumpah ruah mengikuti pembukaan festival budaya di Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Senin. Event yang digagas Pemkot Kupang ini akan menjangkau seluruh kelurahan secara bergilir dengan dukungan anggaran penuh dari pemerintah kota setiap tahunnya.
Wali Kota Kupang Christian Widodo saat membuka acara menegaskan bahwa festival budaya adalah wujud komitmen pemerintah daerah dalam menjaga identitas kota. Ia menyebut keberagaman yang dimiliki Kupang harus dirawat bersama.
"Kita bukan sekadar merayakan sebuah festival, tetapi kita merayakan identitas dan jiwa Kota Kupang, yaitu keberagaman dan kolaborasi," katanya di hadapan warga.
Christian menekankan bahwa kekuatan sebuah kota tidak terletak pada keseragaman, melainkan pada kemampuan menyatukan perbedaan secara proporsional. Pesan ini ia sampaikan di tengah masyarakat multi etnis yang menjadi ciri khas ibu kota Provinsi NTT tersebut.
"Harmoni itu bukan sama atau seragam, tetapi seimbang. Kita berbeda-beda, tetapi ketika disatukan dengan proporsi yang tepat akan menjadi harmoni yang indah," ujarnya.
Ia menambahkan, keberagaman justru harus menjadi jembatan yang memperkuat kehidupan sosial, bukan penghalang yang memisahkan warga.
Pemkot Kupang memberikan keleluasaan penuh kepada setiap kelurahan untuk menentukan tema budaya yang akan ditampilkan. Tidak ada intervensi dari pemerintah, sehingga masing-masing kelurahan bisa menampilkan pakaian adat, tarian, hingga kuliner khas sesuai identitas budayanya.
Setiap festival berlangsung selama tiga hari. Selain menjadi ajang pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi penggerak ekonomi warga melalui keterlibatan pelaku UMKM setempat.
"Salah satu komitmen kita adalah dengan mengadakan festival budaya di 51 kelurahan. Kita keliling, ada anggarannya yang kita siapkan, dan itu tiap tahun," kata Christian.
Meski anggaran telah disiapkan setiap tahun, Pemkot Kupang mengakui jumlahnya belum mencukupi seluruh kebutuhan penyelenggaraan. Karena itu, setiap kelurahan didorong untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak demi kelancaran acara.
Di luar agenda kebudayaan, wali kota juga menyampaikan sejumlah program prioritas lainnya. Pembenahan kantor lurah sebagai ujung tombak pelayanan publik terus dilanjutkan agar representatif dan ramah disabilitas.
Pembangunan jalan lingkungan juga tetap berjalan meski dalam kondisi efisiensi anggaran. Perbaikan ruas jalan di kawasan GOR dan Jalan Taebenu disebut menjadi salah satu prioritas yang dikerjakan secara bertahap.