Rupiah Kembali Terpuruk ke Rp 17.869 per Dolar AS, Ekonom Sebut Tekanan Eksternal Masih Dominan

Penulis: Jauhari Lubis  •  Rabu, 12 Agustus 2026 | 14:06:31 WIB
Rupiah melemah 8 poin ke Rp 17.869 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu pagi.

JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah tak kunjung mereda. Pada pembukaan perdagangan Rabu pagi, mata uang Garuda kembali melemah tipis ke posisi Rp 17.869 per dolar AS, memperpanjang tren negatif yang membayangi pasar keuangan domestik dalam beberapa pekan terakhir.

Berdasarkan data yang dihimpun Kantor Berita ANTARA di Jakarta, pelemahan kali ini tercatat 8 poin atau setara 0,04 persen. Angka tersebut beranjak dari level penutupan perdagangan sebelumnya yang masih bertahan di Rp 17.861 per dolar AS.

Level Rp 17.800-an Kian Sulit Dipertahankan

Pergerakan ini menegaskan bahwa level support Rp 17.800-an semakin sulit dipertahankan oleh pasar. Para pelaku pasar tampak masih waspada terhadap arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) di tengah ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda.

Pelemahan yang terjadi pada pembukaan perdagangan ini juga menjadi sinyal bahwa permintaan dolar AS dari korporasi domestik, terutama untuk pembayaran impor dan utang luar negeri, masih cukup tinggi. Kondisi ini berpotensi terus menekan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.

Faktor Eksternal Jadi Biang Kerok

Tekanan terhadap rupiah kali ini tidak terlepas dari sentimen global yang masih didominasi penguatan indeks dolar AS. Data ekonomi Amerika Serikat yang cenderung resilient membuat pasar kembali mengkalkulasi ulang potensi penurunan suku bunga The Fed yang lebih lambat dari perkiraan awal.

Akibatnya, aliran modal asing cenderung menahan diri untuk masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Padahal, arus modal masuk sangat dibutuhkan untuk menopang stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global.

Para analis memperkirakan pergerakan rupiah ke depan masih akan sangat bergantung pada data inflasi dan kebijakan bank sentral AS. Selama ketidakpastian global masih membayangi, volatilitas nilai tukar rupiah berpotensi terus berlanjut.

Bank Indonesia sendiri sebelumnya telah berkomitmen untuk terus hadir di pasar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah melalui triple intervention. Namun, efektivitas intervensi tersebut sangat bergantung pada besarnya tekanan eksternal yang datang.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Bank Indonesia terkait langkah lanjutan untuk menahan pelemahan rupiah. Pasar pun masih menanti sinyal kebijakan selanjutnya dari pertemuan dewan gubernur yang dijadwalkan dalam waktu dekat.

Reporter: Jauhari Lubis
Sumber: kupang.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top