TAMBOLAKA — Krisis air bersih di daerah tertinggal tidak cukup diselesaikan dengan membangun infrastruktur fisik semata. Kesiapan sumber daya manusia, khususnya pengelola di tingkat desa, menjadi penentu apakah sambungan pipa dan pompa yang sudah dibangun akan bertahan atau kembali mati dalam beberapa tahun.
Kegiatan ini diikuti peserta berusia 20–60 tahun dari 14 desa di Kabupaten Sumba Barat Daya. Mereka mendapatkan materi mulai dari perlindungan sumber mata air, pengoperasian pompa air tenaga surya, hingga tata kelola kelembagaan dan peluang bisnis setelah air tersedia.
73 Persen Fasilitas Air Desa Mati karena Lembaga Pengelola Berhenti
Head of Program Solar Chapter, Sonya Teresa Debora, membeberkan data yang menjadi dasar pentingnya pelatihan ini. Dari sekitar 170 desa yang tercatat tidak beroperasi sistem airnya, mayoritas penyebabnya bukan kerusakan teknis.
"Dari desa-desa itu, kita telisik lebih jauh dan ketahui bahwa 73 persen lembaganya berhenti beroperasi. Maka dari itu, kita bisa belajar bahwa komite air dan perannya menjadi sentral dalam keberlanjutan sistem air," jelas Sonya.
Senada dengan itu, Koordinator Program Wahana Visi Indonesia, Yohannes Tanaboleng, menegaskan bahwa infrastruktur fisik tidak otomatis menjamin fungsi jangka panjang. Keberlanjutan sistem sangat bergantung pada komitmen seluruh pihak, termasuk kesiapan para peserta pelatihan dalam mengoperasikan dan merawat sarana yang ada.
Mengapa Pemuda Desa Menjadi Sasaran Utama Pelatihan?
Program "Solar Champions" yang digagas Solar Chapter sejak 2025 ini memang menyasar pemuda desa dan profesional muda NTT. Mereka dipersiapkan menjadi penggerak sistem air bersih dengan bekal keterampilan kepemimpinan komunitas dan kolaborasi lintas sektor.
Direktur Penyerasian Pembangunan Sarana dan Prasarana Daerah Tertinggal Kemendesa PDT, Teguh Hadi Sulistiono, mengingatkan bahwa air adalah berkah yang harus dijaga. Hal tersebut hanya bisa dilakukan jika komite air kuat dan sistem yang ada berfungsi dengan baik.
"Air itu berkat Tuhan, tetapi air harus kita jaga. Dan ini bergantung pada kuatnya komite air, keberfungsian sistem yang ada, serta bagaimana kita bisa meningkatkan pemanfaatan air," tegas Teguh.
Ujian Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut untuk 14 Desa
Pelatihan berlangsung intensif dengan perpaduan teori di kelas dan praktik lapangan. Tiga mentor dihadirkan, yakni Emmanuel Danga dari Dinas Pekerjaan Umum Sumba Barat Daya, Ferdi Jermias dari PERUMDA Kota Kupang, dan Ayang Penlaana selaku WASH Engineer Specialist.
Pada hari terakhir, peserta mengikuti ujian evaluasi pemahaman. Mereka juga menyusun Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) dan Komitmen Bersama agar implementasi hasil pelatihan bisa terus dipantau penerapannya di desa masing-masing.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Sumba Barat Daya, Benyamin Kabba, mengapresiasi kegiatan ini. Ia mengimbau seluruh peserta untuk merawat sarana air yang telah dibangun karena air bersih adalah kebutuhan pokok semua warga.
"Air bersih adalah kebutuhan kita semua, sehingga kita harus jaga! Kita harus jaga hal yang paling penting dalam kehidupan," ujar Benyamin.