KUPANG — Puluhan perwakilan umat dari 19 Kelompok Umat Basis (KUB) di Stasi Santo Agustinus Bello, Kota Kupang, mengikuti pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga yang digelar tim pengabdian masyarakat Universitas Nusa Cendana (Undana). Kegiatan berlangsung di Kapela St. Agustinus Bello, Sabtu (8/8/2026), dan diikuti bapak-bapak, ibu rumah tangga, serta Orang Muda Katolik (OMK).
Program bertajuk "Pelatihan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga bagi Umat Stasi St. Agustinus Bello: Sebuah Solusi Berkelanjutan untuk Kesehatan dan Lingkungan" ini merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ketua Tim PKM Undana, Adi Yermia Tobe, mengatakan dosen dan mahasiswa berupaya mendekatkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.
Mengapa Sampah Organik Perlu Diolah?
Adi menjelaskan, sampah organik rumah tangga selama ini kerap dibuang begitu saja dan menumpuk di tempat pembuangan akhir. Padahal, dengan pengolahan sederhana dan biaya relatif murah, sampah tersebut bisa memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan.
"Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Ke depan, bisa dilanjutkan dengan pelatihan produk turunan eko enzim, seperti sabun dan produk lainnya," kata Adi dalam keterangan yang diterima redaksi.
Tiga Metode: Eko Enzim, Enzim Buah, dan Komposter
Peserta tidak hanya mendapat teori, tetapi langsung mempraktikkan pembuatan tiga produk olahan sampah. Untuk eko enzim, mereka menggunakan perbandingan 1:3:10—satu bagian molase atau gula merah, tiga bagian sampah organik segar, dan 10 bagian air. Kulit buah dan sisa sayuran dipotong kecil, lalu difermentasi sekitar tiga bulan.
Enzim buah dibuat dari bagian buah dan madu asli dengan perbandingan sama, difermentasi sekitar 12 bulan, dan hasilnya bisa dikonsumsi sebagai minuman kesehatan. Sementara itu, komposter drum statis vertikal dan komposter ember tumpuk digunakan untuk menghasilkan pupuk organik padat (POP) dan pupuk organik cair (POC) dalam 14–30 hari.
Hasil Pelatihan: Satu Toples Eko Enzim dan Satu Galon Enzim Buah
Setelah tiga jam pendampingan, peserta berhasil memproduksi satu toples eko enzim berukuran 26 liter dan satu galon enzim buah berukuran 19 liter. Salah satu peserta, Maria Tuan, mengaku senang mendapat pengetahuan baru yang bisa diterapkan sehari-hari.
"Saya senang karena mendapat pengetahuan baru tentang bagaimana mengolah sampah rumah tangga. Ternyata sampah yang selama ini dibuang bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat," ujar Maria.
Tindak Lanjut: Diskusi via Grup WhatsApp
Sekretaris Dewan Pastoral Stasi (DPS) St. Agustinus Bello, Kaitanus Korbafo, menyampaikan apresiasi atas kerja sama dengan Undana. Menurut dia, pelatihan ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga mendorong kehidupan harmonis antara manusia dan lingkungan.
Sebagai tindak lanjut, peserta sepakat membentuk kelompok diskusi melalui grup WhatsApp agar ilmu yang diperoleh bisa dibagikan ke anggota KUB lain dan diterapkan di rumah masing-masing. Tim PKM Undana berharap pendampingan berkelanjutan dapat dilakukan agar program ini benar-benar berdampak jangka panjang.